Kisah 2 Pengusaha Yang Sukses Bikin Gorengan Jadi Populer Di Indonesia

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Jakarta -

Kepopuleran gorengan di Indonesia rupanya dipengaruhi 2 pengusaha sukses ini. Mereka membikin bahan baku gorengan lebih mudah diakses hingga panganan ini tak bisa lepas dari keseharian orang Indonesia.

Siapa tak suka gorengan? Rasanya nyaris semua orang di Indonesia menyukai paduan makanan berlapis tepung nan digoreng garing tersebut.

Sejarah mengenai gorengan pun mencuri perhatian. Rupanya metode menggoreng baru berkawan untuk orang Indonesia pada tahun 1990-an, ketika minyak goreng dari kelapa sawit ada di pasaran dalam jumlah besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu ada 2 sosok pengusaha nan berkedudukan besar dalam membikin gorengan populer. Peran itu ada pada keberhasilan mereka merintis industri minyak goreng nan kemudian berakibat pada kebiasaan makan gorengan.

Dua pengusaha itu adalah Eka Tjipta Widjaja dan Sudono Salim.

Sebelumnya perlu diketahui jika budaya menggoreng memang sudah dikenal di Indonesia sejak abad ke-16 ketika orang China dan Eropa datang. Lambat laun, teknik menggoreng makin terkenal lantaran dua hal.

Pertama, munculnya minyak kelapa sebagai bahan baku pada abad ke-19 nan memudahkan proses penggorengan. Kedua, diperkenalkannya mentega sebagai bahan menggoreng oleh bangsa Eropa, khususnya Belanda.

Fadly Rahman dalam Jejak rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016) menyebut mentega menjadi jagoan untuk menggoreng di Hindia Belanda pada abad ke-20. Pada kurun waktu tersebutlah muncul merek mentega ternama, ialah Blue Band.

Dari sini kemudian lahir ragam makanan dari hasil menggoreng, nan sekarang disebut sebagai gorengan, seperti pisang goreng dan tempe goreng. Namun, hadirnya gorengan bukan berfaedah bisa dinikmati tiap saat oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab, mentega dan minyak kelapa susah dijangkau lantaran harganya mahal.

Namun semua itu akhirnya berubah ketika industri minyak sawit di Indonesia muncul.

Kemunculan Minyak Goreng

pisang gorengPopularitas gorengan diawali dengan kemunculan minyak goreng di Indonesia. Foto: Ari Saputra

Titik baliknya terjadi ketika Presiden Soeharto berkuasa sejak 1966. Soeharto memperbolehkan pihak swasta merintis industri sawit untuk mempopulerkan minyak goreng nan lebih terjangkau masyarakat.

Izin ini kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha Eka Tjipta Widjaja. Pada 1968, Eka memproduksi Bimoli sebagai minyak goreng premium pertama di Indonesia. Bimoli merupakan singkatan dari Bitung Manado Oil.

Dua tahun kemudian industri minyak goreng di Indonesia semakin ramai ketika Liem Sioe Liong namalain Sudono Salim ikut serta. Alhasil, sejak tahun 1970-an, keduanya pun seketika menjadi pemain besar di industri minyak goreng.

Eka Tjipta Widjaja menghasilkan minyak merek Filma dan Kunci Mas. Lalu Salim memproduksi minyak merek Bimoli, nan awalnya dirintis oleh Eka lampau diambil alih oleh Salim. Namun, unik nama terakhir dia tidak hanya produksi Bimoli, tetapi juga kunci pembuatan gorengan lain, ialah tepung terigu merek Bogasari pada 1970.

Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), hadirnya merek Bogasari membikin masyarakat Indonesia mudah menjangkau tepung. Tepung jadi lebih murah dan membikin masyarakat terbiasa mengkonsumsi makanan olahan tepung.

Pada titik ini, di dapur masyarakat Indonesia sudah ada tepung dan minyak goreng. Kombinasi kedua bahan itulah nan jadi kunci pembuatan gorengan. Tepung dan minyak goreng pun kemudian jadi upaya krusial di Indonesia sepanjang kepemimpinan Presiden Soeharto.

Dukungan penguasa nan kuat membikin upaya Salim dan Eka Tjipta mendominasi pasar. Bahkan, Bustanil Arifin dalam Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia (2004) menyebut, Bimoli pernah menguasai 75% pasar minyak goreng dalam negeri di era Orde Baru.

Bukan Recehan, Netizen Bagikan Harga Gorengan nan Selangit MahalnyaHingga akhirnya menu gorengan mengubah selera makan masyarakat Indonesia. Foto: Site News

Atas dasar inilah, orang Indonesia makin terbiasa dengan gorengan, alias olahan lain dari tepung terigu nan digoreng. Lantas, terjadilah perubahan menu konsumsi masyarakat sejak 1990-an.

Gorengan kemudian menjadi sesuatu nan tak bisa dilepaskan dari menu makanan harian masyarakat. Dari pagi, siang, dan malam, pasti mengonsumsi gorengan. Di pinggir jalan ada tukang gorengan. Saat momen-momen tertentu masyarakat jadi makan gorengan.

Jadi, Salim, dan Eka Tjipta secara tidak langsung adalah sosok nan mengajari rakyat Indonesia membiasakan diri menikmati gorengan sepanjang waktu.

Artikel ini sudah tayang di CNBC Indonesia dengan titel Gara-Gara 2 Orang Ini, Warga Indonesia Doyan Makan Gorengan

Simak Video "Mesti Coba! Uniknya Rasa Gorengan Buah di Jakarta Pusat"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)

Selengkapnya
Sumber Detik Food
Detik Food